Alasan Islam dalam Ilmu kesehatan mengapa mengaharamkan Babi Untuk dimakan

77 Views

Konsumsi daging babi atau apapun yang terbuat dari babi menjadi hal yang kontroversial di Indonesia karena banyaknya pemeluk agama Islam di negara ini. Ya, Islam memang mengharamkan pemeluknya untuk mengonsumsi segala macam bentuk olahan babi.

Selain alasan agama, ternyata ada alasan kesehatan yang bisa menjadi dasar kenapa kamu tak boleh makan babi atau membatasi konsumsi babi bagi kamu yang diperbolehkan untuk mengonsumsinya.
Ajaran Islam mengharamkan umatnya mengkonsumsi daging babi dan atau memanfaatkan seluruh anggota tubuh babi. 


Berikut sepuluh alasan mengapa babi diharamkan.

Pertama, babi adalah container (tempat penampung) penyakit.

Beberapa bibit penyakit yang dibawa babi seperti Cacing pita (Taenia
solium), Cacing spiral (Trichinella spiralis), Cacing tambang
(Ancylostoma duodenale), Cacing paru (Paragonimus pulmonaris), Cacing
usus (Fasciolopsis buski), Cacing Schistosoma (japonicum), Bakteri
Tuberculosis (TBC), Bakteri kolera (Salmonella choleraesuis), Bakteri
Brucellosis suis, Virus cacar (Small pox), Virus kudis (Scabies),
Parasit protozoa Balantidium coli, Parasit protozoa Toxoplasma gondii

Kedua, daging babi empuk.

Meskipun empuk dan terkesan lezat, namun karena banyak mengandung
lemak, daging babi sulit dicerna. Akibatnya, nutrien (zat gizi) tidak
dapat dimanfaatkan tubuh.

Ketiga, menurut Prof. A.V.
Nalbandov (Penulis buku : Adap-tif Physiology on Mammals and Birds)
menyebutkan bahwa kantung urine (vesica urinaria) babi sering bocor,
sehingga urine babi merembes ke dalam daging. Akibatnya, daging babi tercemar kotoran yang mestinya dibuang bersama urine.

Keempat,
Lemak punggung (back fat) tebal dan mudah rusak oleh proses ransiditas
oksidatif (tengik), tidak layak dikonsumsi manusia.

Kelima, babi merupakan carrier virus/penyakit Flu Burung (Avian influenza) dan Flu Babi (Swine Influenza).

Di dalam tubuh babi, virus AI (H1N1 dan H2N1) yang semula tidak ganas
bermutasi menjadi H1N1/H5N1 yang ganas/mematikan dan menular ke
manusia.

Keenam, menurut Prof Abdul Basith Muh. Sayid berbagai
penyakit yang ditularkan babi seperti, pengerasan urat nadi, naiknya
tekanan darah, nyeri dada yang mencekam (Angina pectoris), radang
(nyeri) pada sendi-sendi tubuh.

Ketujuh, Dr.
Murad Hoffman (Doktor ahli & penulis dari Jerman) menulis bahwa
Memakan babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tapi
juga menyebabkan peningkatan kolesterol tubuh dan memperlambat proses
penguraian protein dalam tubuh.

Ditambah cacing babi Mengakibatkan penyakit kanker usus, iritasi
kulit, eksim, dan rheumatic serta virus-virus influenza yang berbahaya
hidup dan berkembang di musim panas karena medium (dibawa oleh) babi.

Kedelapan,
penelitian ilmiah di Cina dan Swedia menyebutkan bahwa daging babi
merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar.

Kesembilan,
Dr Muhammad Abdul Khair (penulis buku : Ijtihaadaat fi at Tafsir Al
Qur’an al Kariim) menuliskan bahwa daging babi mengandung benih-benih
cacing pita dan Trachenea lolipia. Cacing tersebut berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi.


Kesepuluh, DNA babi mirip dengan manusia, sehingga sifat buruk babi dapat menular ke manusia.
Beberapa sifat buruk babi seperti, Binatang paling rakus, kotor, dan
jorok di kelasnya, Kemudian kerakusannya tidak tertandingi hewan lain,
serta suka memakan bangkai dan kotorannya sendiri dan Kotoran manusia
pun dimakannya. Sangat suka berada di tempat yang basah dan kotor. Untuk
memuaskan sifat rakusnya, bila tidak ada lagi yang dimakan, ia
muntahkan isi perutnya, lalu dimakan kembali. Lebih lanjut Kadang ia
mengencingi pakannya terlebih dahulu sebelum dimakan.

Selain kesepuluh alasan diatas ternyata ada beberapa penyakit lain
yang dapat disebabkan oleh babi seperti kholera babi (penyakit menular
berba-haya yang disebabkan bakteri), keguguran nanah (disebabkan bakteri
prosilia babi), kulit kemerahan yang ganas (mematikan) dan menahun,
Penyakit pengelupasan kulit, dan Benalu Askaris, yang berbahaya bagi
manusia

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *