Minat baca anak – anak dan masyarakat indonesia sangat rendah, berbagai instansi cari cara agar menaikan minat baca .

145 Views
vegasidr.com
Minat baca
masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, masih sangat rendah. Data
dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01
persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang
membaca.
Menurut Pendiri Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia, Trini Hayati, salah satu penyebab rendahnya minat baca
anak adalah kesulitan akses untuk mendapatkan buku. Semangat baca yang
tinggi pun menjadi tidak berarti tanpa adanya buku yang bisa dibaca.
vegasidr.com
“Rasa tertarik ada tapi untuk mendapatkan akses buku susah. Jadi, minat baca anak kurang,” ujar Trini, seperti dikutip vegasmagz, Kamis (11/5/2017).
Sebagian
besar masyarakat Indonesia kesulitan mengakses buku. Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), contohnya. Masih sedikitnya jumlah perpustakaan
dan koleksi buku di wilayah NTT tak bisa dipungkiri ikut membatasi
tumbuhnya minat baca.
vegasidr.com
Pegiat
literasi asal Manggarai Barat, NTT, Wilfridus Babun, mengungkapkan
perpustakaan di desanya hanya memiliki 50 buku. Mereka juga sangat
kekurangan buku anak-anak.
Minat baca karena terbiasa
Selain
kesulitan akses memperoleh buku anak-anak, tidak adanya penanaman
kebiasaan membaca sejak dini menjadi penyebab rendahnya minat baca
anak. Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, Yayuk Basuki.
Orang tua
perlu menyediakan waktu khusus untuk membacakan buku dan menemani anak
untuk membaca. “Karena itu, orangtua harus menjadi contoh dan kontrol
yang baik bagi anak,” ujarnya, seperti dikutip vegasmagz, Senin (25/5/2015).
Pendapat
serupa juga disuarakan oleh penggagas tabloid anak Berani, Witdarmono.
Orangtua, sebagai guru pertama bagi anak, memiliki peran penting dalam
menumbuhkan minat baca.
“Di lingkungan keluarga, budaya membaca harus diajarkan sejak dini. (Sebab) membaca dapat menumbuhkan kejujuran anak dan membuat mereka memegang nilai-nilai positif,” ucap Witdarmono, seperti dikutip vegasmagz pada Kamis (19/5/2016).
Dia melanjutkan, anak-anak akan fokus belajar membaca
ketika mendengar suara orangtuanya. Dengan mendengar suara ibu atau
ayah, anak akan merasa tenang sehingga mampu berkosentrasi membaca buku.
Karena itu, membacakan buku cerita yang sesuai dengan usia dan ketertarikan anak bisa menjadi cara jitu dalam menumbuhkan minat baca mereka. Dengan tumbuhnya semangat membaca, diharapkan jendela pengetahuan dan inspirasi anak pun akan terbuka lebar.
Mengingat pentingnya membaca
bagi anak tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus terkait
gerakan literasi masyarakat. Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo menerbitkan kebijakan pengiriman buku ke seluruh penjuru tanah
air secara gratis melalui PT Pos Indonesia pada tanggal 17 setiap
bulannya. Pada hari itu, semua masyarakat dapat turut menyumbangkan
bukunya.
Namun, sebenarnya masyarakat tak perlu menunggu sebulan
sekali atau repot-repot pergi ke kantor pos setiap kali ingin menyumbang
buku. Kini, sudah semakin banyak pegiat literasi yang menerima
sumbangan berupa dana yang nantinya akan dibelikan buku untuk
disumbangkan. Bahkan, perusahaan seperti BCA memiliki gerakan
#BukuUntukIndonesia.
Partisipasi dana dari masyarakat akan
dibelikan buku. Selanjutnya, buku-buku itu disumbangkan ke Sekolah Dasar
Negeri di 60 daerah yang masih kekurangan buku. Tujuannya, agar anak
Indonesia memiliki pengetahuan dan wawasan yang #LebihBaik lagi serta
memiliki kesempatan mengejar mimpinya.
Siap menjadi bagian dari pegiat menanamkan semangat baca anak Indonesia?
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *