Misterius selama 200 tahun, akhirnya Kuphus polythalamia

63 Views
vegasidr.com

 Selama 200 tahun, cacing kapal menjadi makhluk misterius. Meskipun
telah dideskripsikan secara ilmiah, tak satu pun ilmuwan yang
menjumpainya dalam keadaan hidup di habitatnya.
Hingga tahun lalu
saat melakukan riset ke Filipina, Daniel L Dustel dari Northeastern University melihat wujud makhluk tersebut dalam video Youtube.
Berbekal
gambar latar video, ia lantas bertanya kepada ilmuwan lokal tentang
kemungkinan lokasi cacing yang panjangnya mencapai 1,5 meter itu berada
dan akhirnya menemukan di pedalaman Mindanao.
Lewat publikasinya di Proceedings of the National Academy of Sciences pada Senin (17/4/2017), ia mengungkap bahwa cacing kapal itu lebih aneh dari dugaan.

vegasidr.comvegasidr.com


Pertama, meski berbentuk menyerupai cacing, makhluk itu terbukti tak
bisa dikatakan cacing sama sekali. Hewan tersebut malah masuk golongan
hewan lunak, sebangsa dengan kerang.
Dengan panjang setara kasur twin, hewan dengan nama ilmiah Kuphus polythalamia itu bisa dikatakan sebagai remis terpanjang di dunia.
Kedua, tak seperti cacing kapal lain yang memakan kayu, remis yang diyakini juga hidup di wilayah Indonesia ini memakan gas!
Ketiga,
mulut dan saluran pencernaan hewan itu kecil saking tak pernah
digunakan. Tapi, insangnya luar biasa besar, jauh lebih besar dari hewan
yang segolongan.
Dustel dan timnya meneliti insang itu dan menemukan kenyataan mengejutkan. Organ itu dipenuhi bakteri pemakan hidrogen suldifa.



Temuan bakteri pemakan hidrogen sulfida itu membuktikan adanya simbiosis yang memungkinkan bakteri mendapatkan tempat hidup dan Kuphus polythalamia mendapatkan nutrisi.
Bakteri mengubah hidrogen sulfida menjadi sulfat, bentuk senyawa yang bisa dimanfaatkan K polythalamia sebagai sumber energi.
“Ini
adalah salah satu bentuk evolusi konvergen (evolusi pada jenis yang
jauh berbeda dan berlangsung mandiri untuk bisa menyesuaikan diri pada
habitat tertentu),” kata Distel seperti dikutip Newsweek pada Senin.
Kemampuan bekerja sama dengan bakteri bernama 2141T menjadi kunci K polythalamia bertahan hidup dan tumbuh raksasa. Hewan itu tak perlu mencari mangsa sebab berenang saja sudah bisa mendapatkan nutrisi.
Tahun
2000, Distel pernah punya hipotesis bahwa makhluk-makhluk yang hidup di
ventilasi hidrotermal bekerjasama dengan bakteri pemakan sulfur. Temuan
ini mendukung hipotesis tersebut.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *