objektivitas dan niat baik dibalik pembuatan robot seks

56 Views

Alat bantu seksual telah lama ada di masyarakat. Kini, tampilannya tidak lagi hanya sekedar potongan alat tubuh tertenu. Perkembangan teknologi telah memungkinkan untuk membuat alat bantu seksual yang menyerupai manusia, yakni robot seks.
Untuk sebuah pesta, robot seks sudah bisa dibeli atau disewa di Amerika Serikat. Bahkan, rencananya sebuah kafe di Paddington, London, akan dikelola oleh “robot erotis”. Bila menginginkannya, kocek harus digali lebih dalam karena harganya tak murah. Empat pabrik yang memasarkan robot seks mematok harga mulai dari 5.000 dolar Amerika (sekitar Rp 67 juta) hingga 15.000 dolar Amerika (sekitar Rp 201 juta).
Walaupun sering kali dipandang sebelah mata, kehadiran robot seks tidaklah tanpa tujuan. Orang tua, penyandang disabilitas, seseorang dengan pengalaman seksual yang traumatik, hingga laki-laki yang mengalami disfungsi ereksi atau ejakulasi dini bisa memanfaatnya.
Kemunculan robot seks juga digadang menjadi sebuah lompatan besar dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Foundation for Responsible Robotics (FRR), dalam laporannya, percaya bahwa robot seks menandai sebuah “revolusi” dalam seks bagi seseorang yang kesulitan mendapatkannya.
Keuntungan lainnya, tak ada persaaan laki-laki maupun perempuan yang terluka setelah hubungan seksual berakhir sehingga pada tingkat lanjut, robot seks dimungkinkan untuk meraih imajinasi seksual. Misalnya, bisa sepasang kekasih ingin mencicipi fantasi berhubungan seksual dengan orang ketiga atau bila Anda penyuka kekerasan, robot seks tidak akan protes.
Sebuah robot seks bernama Frigid Farah yang dibuat oleh perusahaan Amerika, TrueCompanion, digambarkan sebagai “pendiam dan pemalu”. Kondisi ini menjadi klaim bahwa robot seks dapat mengatasi terjadinya pemerkosaan dengan mensimulasikan fantasi pemerkosa.
Meski demikian, tampaknya ada satu batas moral yang masih belum bisa dilewati, bahkan oleh robot seks sekalipun. Robot berukuran anak-anak yang ditujukan untuk para pemangsa anak dan pedofilia masih membuat banyak warganet bergidik dan seorang pembeli dari Kanada dihukum dengan kepemilikan pornografi anak.
Selain itu, terdapat kekhawatiran lain bahwa alat tersebut akan meningkatkan objektivikasi wanita. Wanita tidak lagi dipandang sebagai subjek, melainkan hanya sekedar objek pemenuh keinginan laki-laki.
Penulis laporan FRR, dan seorang profesor kecerdasan buatan dan robotika di Sheffield University, Noel Sharkey, juga skeptis terhadap kemampuan robot seksual dapat mengatasi pemerkosaan pada wanita dewasa atau anak-anak. Menurutnya, hal itu hanya akan memberikan dorongan bagi pedofilia agar diterima masyarakat.
Senada dengan Sharkey, Patrick Lin, direktur kelompok etika dan perkembangan ilmu pengetahuan di California Polytechnic State University, juga menyangsikan kehadiran robot seksual. Ia menilai hal ini sebagai kesalahan pola pikir dalam “revolusi” teknologi.
“Mengobati pedofilia dengan robot seks anak-anak adalah ide yang meragukan dan menjijikkan. Bayangkan memperlakukan rasisme dengan membiarkan seorang fanatik menyalahgunakan robot cokelat. Apakah itu bekerja? Mungkin tidak,” ujar Lin.
Sementara itu, Suzanne Moore, seorang kolumnis The Guardian, beranjak lebih jauh dengan menyebut bisnis robot seks merupakan simulasi pria membeli wanita. Menurut dia, robot seks hanyalah alat bantu masturbasi yang canggih. Moore menilai saat ini manusia telah terjebak degan kemajuan teknologi dan berada satu ranjang dengan mesin bukanlah kemajuan peradaban.
“Sebuah teknologi yang didorong oleh fantasi masturbasi bukanlah teknologi yang meningkatkan kehidupan wanita. Revolusi yang sebenarnya akan menjadi teknologi yang didorong oleh seperangkat “kebutuhan” bersama,” ucap Moore.
Sayangnya, teknologi seringkali bergerak lebih cepat dari perkiraan manusia. Terlebih dengan ekspansi bisnis.
Untuk itu. Dr Aimee van Wynsberghe, asisten profesor bidang etika dan teknologi di University of Delft dan Asisten Direktur FRR, mengungkapkan perlunya seperangkat aturan untuk menyeimbangkan percepatan teknologi.
Dengan nihilnya pengaturan, personifikasi anak dan objektivikasi perempuan akan meningkat. Sebaliknya, aturan yang mengekang akan menghentikan laju teknologi. “Anda perlu menemukan keseimbangan untuk mempertahankan kebaikannya,” ucap Aimee.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *