Pepe Yang Pensiun Dari Madrid Dan Cinta Yang Kian Terkikis

78 Views

Kekecewaan yang Mengikis Sebagian Cinta Pepe Pada Real Madrid
Satu dekade bukanlah waktu yang singkat bagi seorang pemain bertahan di satu klub. Ada banyak momen yang dilalui dalam rentang waktu tersebut, sebagian mungkin bisa dilupakan begitu saja layaknya angin lalu. Namun sebagian lagi tentu akan terpatri dalam benak dan hati saat keputusan mundur dibuat setelah 10 musim lamanya membela klub yang ia cintai.

Perasaan tersebut kini tengah menyelimuti hati Pepe. Pemain bertahan Real Madrid itu memutuskan pergi dari Santiago Bernabeu setelah 10 musim yang menyenangkan bersama “Los Blancos”. Di akun Instagram miliknya, Pepe mengucapkan salam perpisahan kepada seluruh pendukung, pemain, petinggi, dan orang-orang yang masih mengabdikan dirinya bagi Real Madrid.

Tidak ada kata selain terima kasih yang bisa diucapkan Pepe saat harus melepas seragam putih dengan lambang mahkota di dada itu. Ada banyak arti yang menyiratkan kecintaannya kepada Real Madrid dari kata terima kasih yang ia ucapkan itu.

Sebuah hal yang wajar mengingat pencapaian yang begitu sempurna bersama Madrid. Dalam 10 tahun, 12 trofi berhasil diraih Pepe. Paling krusial tentu tiga gelar juara Liga Champions yang didapatkannya pada musim 2013/2014, 2015/2016, 2016/2017.

“Hari ini, setelah 10 tahun lamanya saya harus melepas seragam kebanggaan Real Madrid. Hari ini saya hanya bisa berterima kasih kepada kalian semua yang telah mendukung saya, kalian telah telah menulis kisah indah ini bersama saya. Terima kasih kepada kalian semua, teman dan kolega yang selalu menemani saya,” tulis Pepe.

Bukan hanya klub bernama Real Madrid yang akan selalu ia kenang, Kota Madrid yang merupakan basis dari pemilik gelar terbanyak di Liga Champions itu pun akan mendapatkan tempat khusus dalam memorinya. Baginya, kota Madrid akan memiliki cerita tersendiri, juga bagi keluarga yang ia cintai.

“Saya juga mengucapkan selamat tinggal kepada kota ini, yang telah melihat kelahiran dan pertumbuhan anak-anak perempuan saya. Saya sangat senang dengan apa yang telah saya raih dan saya akan membawa kasih sayang Anda di dalam hati saya,” lanjutnya.

Badai Cedera yang Kerap Mengganggu

Datang pada musim 2007/2008, Pepe memulai musim yang sulit bersama Real Madrid setelah meninggalkan FC Porto. Saat itu lini belakang Madrid masih dihuni banyak pemain bintang seperti Fabio Cannavaro, Gabriel Heinze, Cristoph Metzelder, hingga sang legenda, Michele Salgado.

Ia seakan kesulitan menembus skuat utama Madrid yang kala itu masih dilatih oleh Bernd Schuster. Kondisi diperparah dengan seringnya ia menepi karena cedera. Tercatat selama musim tersebut ia hanya tampil dalam 25 laga di semua kompetisi.

Sampai tiga musim berlalu, kondisi tidak berubah bagi Pepe. Paling nahas saat musim 2009/2010. Cedera berkepanjangan yang dialami membuatnya memiliki jumlah bermain paling minim dalam skuat “Los Blancos” selama semusim dengan hanya 17 laga yang dimainkannya, sisanya banyak ia habiskan di ruang perawatan atau bangku cadangan.

Baru ketika memasuki musim 2010/2011 kesempatan bermain yang lebih baik ia dapatkan. Saat itu Madrid ditangani pelatih sesama Portugal, Jose Mourinho. Di ini belakang Mou kerap memasangkan Pepe bersama Sergio Ramos. Duet tersebut terbilang kokoh sebagai benteng pertahanan Madrid.

Bahkan pujian bagi duet tersebut juga disampaikan Carlo Ancelotti yang pada tahun 2013 sampai 2015 menukangi Madrid. Ancelotti pernah menyebut Pepe dan Ramos sebagai duet bek sempurna. Pujian tersebut dilontarkan pada awal tahun 2014, saat Madrid memecah rekor sebagai tim yang sanggup menang tujuh kali beruntun tanpa kebobolan satu pun gol.

Duet Pepe dan Ramos setidaknya menjadi andalan hingga musim 2015/2016, karena pada saat itu kehadiran Raphael Varane dan badai cedera sedikit mengganggu kebersamaan keduanya. Dalam beberapa kesempatan Varane memang lebih sering diduetkan bersama Ramos.

Namun bukan karena kualitas Pepe yang dianggap jelek oleh Zinedine Zidane, melainkan terlalu seringnya Pepe absen karena cedera. Musim terburuk bagi Pepe terjadi pada musim 2016/2017 ini, lagi-lagi karena badai cedera yang membuatnya hanya tampil dalam 18 pertandingan di semua kompetisi.

Meski begitu, bukan karena minimnya menit bermain yang menjadi penyebab kisah indahnya bersama Madrid harus berakhir. Klub sebenarnya menyodorkan perpanjangan kontrak kepada Pepe hingga semusim ke depan. Namun ia enggan untuk menyetujui kontrak tersebut lantaran sudah kecewa dengan sikap manajemen yang seakan tak acuh padanya.

Satu hal yang membuatnya sangat kecewa adalah saat ia terjerat kasus penggelapan pajak. Saat klub lain membela pemainnya yang terjerat kasus tersebut, Madrid terkesan tak acuh dan membiarkan Pepe menyelesaikan masalah tersebut.

Kekecewaan itu mungkin telah mengikis rasa cintanya kepada klub, hingga keputusan pergi ia buat. Namun kekecewaan yang ia rasakan tidak sepenuhnya menghapus rasa cintanya kepada “Los Blancos”. Tetap saja rasa cinta kepada klub tetap tertanam dalam hatinya. Pada akhir postingannya di Instagram, Pepe mengatakan bahwa bermain di Santiago Bernabeu tidak akan pernah ia lupakan atmosfernya.

“Menginjak Santiago Bernabeu dan merasakan dukungan Anda selalu ajaib. Dalam hati saya, saya menyimpan kasih sayang kalian, dan semua tugas sudah saya penuhi. Real Madrid dan kasih sayang kalian akan selalu menjadi bagian dari sejarah hidup saya.”
Atas perlakuan yang kurang menyenangkan dari manajemenMadridpunPepe hanya mau meneken dua tahun kontrak, bukan satu tahun kontrak seperti yang ditawarkan Madrid. Namun dengan pertimbangan sering cedera dan usianya yang tidak muda lagi, 34 tahun, Real Madrid pun tampaknya enggan memenuhi keinginanPepe. KebersamaanPepe dan Madrid pun harus berakhir.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *