Revolusi untuk memberantas Bakteri Modern yang kebal Antibiotik

56 Views
vegasidr.com
 Baru satu abad berlalu sejak antibiotik dianggap sebagai revolusi pengobatan dalam sejarah manusia. Namun, kini sisi buruk dari “revolusi” ini telah terungkap setelah bakteri- bakteri modern yang kebal antibiotik bermunculan di seluruh dunia.
Badan Kesehatan Dunia ( WHO) bahkan menyebut kekebalan bakteri sebagai “salah satu ancaman terbesar untuk kesehatan global, keamanan pangan, dan perkembangan masa kini” dan menurut Centers for Disease Control and Prevention, ada dua juta kasus dan 23.000 kematian akibat infeksi yang kebal antibiotik di Amerika Serikat setiap tahunnya.
Untuk menangani hal ini, para ilmuwan pun mulai melihat kembali catatan mereka mengenai sebuah senjata ampuh dari awal 1900-an.
Disebut bacteriophage yang berarti “pemakan bakteri”, senjata ini sebenarnya tidak benar-benar memakan bakteri, melainkan virus yang menginfeksi bakteri kemudian meledakkannya dengan mereplika diri.
Kemampuan ini pertama kali diamati oleh ilmuwan Inggris, Frederick Twort, pada tahun 1915 dan dua tahun kemudian kembali dikonfirmasikan oleh pakar mikrobiologi Kanada dan Perancis, Felix d’Herelle.
Akan tetapi, bacteriophage sangat sulit untuk diisolasi, dimurnikan, dan diaplikasikan kepada manusia. Dikombinasikan dengan kemunculan antibiotik yang tersedia dalam jumlah banyak dan efektif membunuhbakteri, bacteriophage pun dengan segera dilupakan oleh dunia pengobatan.
Kini, senjata ampuh ini dibangkitkan kembali dengan nama baru, yakni terapi phage. Semakin banyak juga para pakar pengobatan yang menggunakan terapi ini untuk mengobati penyakit bakteri yang gagal diobati oleh antibiotik. Pada tahun 2016, misalnya, terapi ini terbukti mampu menyelamatkan seorang pria di San Diego yang seharusnya meninggal akibat penyakitnya. Sejak saat itu, kesuksesan demi kesuksesan dituai oleh terapi phage.
Carl Merril, mantal ilmuwan dari National Institutes of Health yang telah mempelajari bacteriophage selama 50 tahun mengatakan kepada The Washington Post 2 Juli 2017, kita benar-benar membutuhkan sesuatu untuk mengobati infeksi yang kebal antibiotik, jadi kita meniliki kembali virus-virus ini dengan pengetahuan dan teknologi yang baru.
Sayangnya, terapi phage maupun bacteriophage belum mendapatkan persetujuan meluas dari lembaga-lembaga kesehatan dunia seperti Food and Drug Administation (FDA) di AS untuk digunakan kepada manusia, kecuali dalam situasi yang mengancam jiwa seperti kasus pada tahun 2006. Namun, beberapa negara seperti Rusia dan Georgia telah menggunakannya sebagai alternatif dari antibiotik.
Cara Fiori, pakar mikrobiologi FDA, angkat bicara untuk menanggapi hal ini. Dia berkata bahwa walaupun FDA menyadari potensi bacteriophage sebagai terapi, data mengenai keefektifan terapi ini sangat terbatas, terutama karena kurangnya percobaan klinis yang benar-benar terkontrol.
)
Mudah ditemukan
Salah satu kelebihan dari bacteriophage adalah kemudahannya untuk ditemukan di mana saja, mulai dari selokan, air laut, tanah, sampai usus manusia. Bacteriophage juga jauh lebih banyak dari jenis virus mau pun organisme apa pun dan para peneliti mengestimasi adanya 10 juta triliun triliun bacteriophage di dunia.
“Usus kita dipenuhi jutaan bacteriophage yang terus-menerus mencoba untuk membunuh bakteri di dalam usus kita. Oleh karena itu, bakteripun selalu berevolusi untuk menghindari phage yang mengejar mereka,” kata Robert T Schooley, ketua divisi penyakit menular di University of California.
Selain itu, berlawanan dengan antibiotik yang membunuh semuabakteri, termasuk yang menguntungkan kita, bacteriophage hanya menarget satu bakteri spesifik saja. Lalu, semakin sering digunakan, bacteriophage juga semakin sering mereplika dan semakin efektif dalam membunuh bakteri tersebut.
Kuncinya adalah mencocokkan bacteriophage yang cocok untuk setiapbakteri yang menjangkiti manusia. Para ilmuwan pun optimis. Dengan jumlah dan varian bacteriophage yang luar biasa banyak, mereka yakin bahwa setiap bakteri memiliki setidaknya satu bacteriophage yang dapat membunuhnya.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *